Sabtu, 24 Oktober 2015

Ismail

Namanya pernah hadir di bukuku
menghias setiap lembar
tentang angan bersamanya
tentang imajinasiku

namanya pernah hadir dalam hatiku
mengisi setiap kekosongannya
dengan cinta yang tak mampu kudevinisikan
mengusir sepi
hadirkan bahagia

namanya pernah hadir di dinding jiwaku
menjadi target istimewa yang harus ku capai
menjadi sebuahcita cita yang begitu tinggi
menjadi renungan hati

Namanya pernah hadir dalam lukaku
dalam keheningan yang amat dalam
dalam bisikanku pada malam yang sunyi
semoga ia bahagia
bersama gadis pilihannya

Sabtu, 17 Oktober 2015

Rasa

Diam dalam hampa
aku seperti tak mampu berkata

dan hanya tak merasakan apa apa

aku terdiam dalam hampa
membisu dan menutup mata
duniaku pun semakin gelap gulita
nuraniku pun semakin membuta

hadirkan padaku sebuah rasa
cahaya, engkau dimana?
kelam,  ada apa?
hujan, mengapa?


diamkan aku dalam hampa
hapus aku dari realita
hidupkan aku di fatamorgana
pecahkan aku seperti kaca
terbangkan luka
kedalam palung jiwa

diamlah dalam hampa!
angin, mengapa?
 hujan, ada apa?
cahaya, kau dimana?

Kamis, 15 Oktober 2015

Separuh jiwaku yang pergi

tertatih aku menata hati ini
aku didalam sebuah kegelapan
kehilangan yang dalam
dan waktu berhenti
ketika engkau tiada disisi

apa yang kau tinggalkan untukku
hanya sebuah kenangan
yang membuat hatiku semakin terasa perih
karena kepergianku buatku rindu

kapankah kau kembali?
akankah kau kembali?
dapatkah kau?
harapan palsu kubangun
buatku gila
menanamkan rasa benci pada takdir
 dan aku hidup dalam fatamorgana
aku sungguh gila

Merenung

Kata apa yang dapat aku ucapkan?
jika mulut ini telah mebisu
yang ada hanya hening

karya apa yang dapat aku ciptakan?
jika raga ini telah lumpuh
yang ada hanya kehampaan

lagu apa yang dapat aku dengar?
jika tuli telah merenggeut pendengaraan
yang kudengar hanyalah elegi

mengapa?
ada apa?
tiiba tiba hadir sebuah keraguan
tak mengerti darimana asalnya
blam
kuusir jauh
jauh sekali
tapi ia malah datang dan datang lagi
bertubi tubi tiada henti
bisukanku
tulikankku
lumpuhkanku
dan aku hanya dapat melihat
terdiam terpaku

3




Bila Malam Tiba
Tak kusangka
Begitu sedihnya aku
Begitu lelahnya aku
Tak kusangka

                Mengapa?
                Sedih ini karena apa?
                Aku bahkan semakin tak mampu
                Mengerti diri yang semakin abu abu ini
                Dalam kelamnya hari
                Mendungnya langit

Kuharap bukan kematian ini hadiahku
Kuharap bukan keputus asaan ini hidupku
Tapi kehidupan apa yang pantas untukku?
Asa apa yang aku miliki?

2




Hari Kemarin
Bila aku melihat hari kemarin
Aku seperti tulang yang berserakan
Mengotori jalanmu
Menjadi sangat tak berguna
Seperti sampah
Seperti limbah
                Bila aku melihat hari kemarin
                Melihat wajahmu penuh dengan bahagia
                Bersamanya, tertawa
                Seperti masa depanmu kan bahagia
                Cerah disinari matahari
                Hangat bersamanya
Bila aku melihat hari kemarin
Sesuatu yang wangi melewatiku
Itu baumu kan?
Kau adalah seseorang disana
Menatapku dengan seksama
Iya kan?
                Bila kau melihat hari kemarin
                Maka datanglah padanya
                Tapi bila kau melihat hari ini
                Maka datanglah padaku
                                                                                                                                Arini Izataki

1




 Aku Menepi
Jika saja hari masih fajar
Jika saja aku mampu mengejar
Tapi aku tak berlari
Hanya berdiam diri
                Mataku lagi lagi basah
                Angin lagi lagi mendesah
                Ada apa dengan diriku?
                Kaki ini seperti terpaku
Gemuruh badai tiba tiba terdengar begitu jelas
Apakah ini sebuah amarah?
Tiba tiba tanganku terasa kebas
Dan luka dihatiku semakin parah
                Mengapa kau hancurkan aku?
                Mengapa wahai air yang deras?
                Apakah karena cintaku?
                Atau hatimulah yang keras?
Seperti batu yang menghantam perahuku
Membuatku menepi darimu
Atau mungkin aku hanya menyerah
Bersama angin yang mendesah
                                                                                                Arini Izataki


kapan

wahai rembulan malam
yang cahaya terangi jiwa
tak menyakiti mata
lembut tak terkira menyapaku

wahai rembulan malam yang sejukkan hatiku
kapankah kitakan bersua
dijalinan kasih yang dalam
bersama melalui perjalan kehidupan
merangkai hari hari
dijalan Nya
dengan cinta kerana Nya

wahai rembulan malam, kekasihku
kutunggu hadirmu disisiku

Sabtu, 10 Oktober 2015

Aku

langit dengarkanlah teriakanku
aku mati dalam lautan manusia
tergerus dan menghilang
kacau balau fikirku
dan jiwaku yang terguncang

langit! dengarkanlah aku
aku ingin mati!
tak peduli dengan dosaku
aku hanya ingin mati, hari ini.
dan aku ingin bertemu dengan tuhanku. itu saja

aku dan segala dukaku

kemana aku harus pergi? tiada yang dapat menerimaku dimanapun aku hinggap. selalu saja, mereka berkata "jadilah seperti dia... itu mereka". tidakkah mereka mengerti? ini adalah aku, itu adalah mereka.  tidakkah mereka mengerti? kita memang bisa berjalan bersama, tetapi dengan kaki masing masing. ah.. sudahlah... orang orang selalu mengecamku dengan kata cengeng, tanpa mereka tahu apa sebenarnya luka yang kurasakan, tanpa tahu apa yang harus aku lewati hingga mencapai hari ini.